Mojokerto-Portalangit. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, pada Senin, 07 November 2022 telah menggelar rapat koordinasi Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di wilayah Mojokerto.

Rapat tersebut diikuti sekitar 80 relawan kebencanaan Kabupaten Mojokerto, satu diantaranya yakni SANTANA SPMAA Mojokerto. Terpantau sebanyak 3 relawan SANTANA SPMAA Mojokerto yang hadir dalam rapat diantaranya, Abdul Wahid, Fadlan, Mahfud.

Rapat yang diselenggarakan di Aula Universitas Bina Sehat PPNI lantai 2, Jl. Raja Jabon, Gayaman, Kec. Mojoanyar, Kab. Mojokerto, Jawa Timur ini digelar sebagai upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) serta meningkatkan kualitas SDM dan hubungan antar relawan.

Pelaksanaan rapat koordinasi ini dihadiri oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto Yo’i Afrida, Ketua FPRB Provinsi Jawa Timur Catur Sudharmanto, Ketua FPRB Kabupaten Mojokerto Saiful Anam, Camat Mojoanyar serta jajaran Forkompimca Mojoanyar.

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati secara langsung membuka rapat koordinasi PRB, dan mengungkapkan hal yang utama dalam penanggulangan bencana yakni ketika pelaksanaan dilapangan bukan hanya membuat aturan, kebijakan pengurangan risiko bencana terintegrasi dari hulu ke hilir, penyelenggaraan manajemen tanggap darurat rehabilitasi dan rekonstruksi serta peringatan dini dilakukan secara cepat dan akurat, serta edukasi dan literasi kebencanaan terus ditingkatkan mulai dari lingkup keluarga.

“Saya minta tolong poin yang kita cermati adalah poin yang ketiga lakukan investasi pengurangan risiko bencana, ini saya garis bawahi. Bagi saya di Kabupaten Mojokerto saat ini terkait dengan masalah kebencanaan ini adalah prioritas utama,” Jelasnya.

Adapun beberapa daerah di wilayah Mojokerto yang rawan bencana banjir, saat musim hujan dengan intensitas tinggi seperti saat ini, diantaranya Trawas, Pacet, Ngoro, Jatirejo, dan Gondang.

Hal ini menjadikan daerah tersebut harus memiliki resapan air yang baik agar mengurangi risiko bencana.

Dalam rapat ini juga disampaikan penting waspada terhadap bencana hidrometeorologi. Maka dari itu perlunya langkah-langkah yang dilakukan seperti memangkas daun dan ranting pada pohon-pohon besar, tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan membersihkan saluran air hingga sungai.

Rapat koordinasi PRB ini memberikan banyak pelajaran dalam meningkatkan kapasitas pengetahuan mengenai upaya dalam pengurangan risiko bencana.

“Ilmu penanggulangan kebencanaan di masyarakat harus benar-benar direspon oleh lembaga-lembaga relawan kebencanaan, perlunya edukasi untuk masyarakat selanjutnya,” kata Abdul Wahid, relawan SANTANA SPMAA Mojokerto.

Perlunya ditindak lanjuti di lapangan dan diimplementasikan di masing-masing lembaga yang bergabung di forum PRB kemudian diaplikasikan kepada masyarakat sekitar,” imbuhnya.

(Ima)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *