CNN. Harga bahan bakar minyak (BBMpertamax turun menjadi Rp13.900 per liter mulai Sabtu (1/10). Sebelumnya, harga pertamax dibanderol Rp14.500 per liter untuk wilayah DKI Jakarta.

“PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) Umum,” bunyi pernyataan dikutip dari website resmi Pertamina, Jumat (30/9).

Selain itu, harga pertamax turbo juga turun dari Rp15.900 menjadi Rp14.950 per liter.

Namun, penurunan harga pertamax tidak diikuti oleh pertalite. Harga pertalite masih di posisi Rp10.000 per liter.

Sementara itu, harga minyak dunia menanjak dalam sepekan terakhir. Pada perdagangan Senin (3/10) waktu Amerika Serikat (AS), harga minyak melompat hampir US$4.

Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik US$4,14 atau 5,2 persen ke US$83,63 per barel di New York Mercantile Exchange.

Penguatan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember sebesar US$3,72 atau 4,4 persen ke US$88,86 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara sepanjang pekan lalu, harga minyak dunia dunia menguat di kisaran 2 persen. Penguatan terjadi lantaran pasar mengantisipasi kemungkinan Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) memangkas produksi minyak.

Kenaikan mingguan tersebut merupakan yang pertama dalam lima pekan terakhir setelah pasar mengantisipasi kenaikan produksi minyak OPEC+ yang diperkirakan diputuskan dalam pertemuan 5 Oktober mendatang.

Kendati demikian, harga minyak sepanjang September masih tertekan. Dow Jones Market Data mencatat harga Brent dan WTI masing-masing turun 8,8 persen dan 11 persen.

Kedua harga minyak acuan juga menutup kuartal III 2022 dengan pelemahan. Harga Brent anjlok 23 persen dan WTI 25 persen.

Penurunan harga juga terjadi lantaran pelaku pasar minyak semakin khawatir akan pengetatan moneter yang agresif oleh bank sentral sejumlah negara dapat meningkatkan risiko resesi yang pada akhirnya mengganggu permintaan bahan bakar.

“Perubahan harga menjadi norma karena para pelaku pasar mengatasi kekhawatiran atas ekonomi global dan prospek pengetatan pasokan minyak,” kata Pialang Minyak PVM Stephen Brennock.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menuturkan sebetulnya harga produksi pertalite dan pertamax tidak terlalu jauh. Menurutnya, pemerintah masih enggan menurunkan harga pertalite demi menjaga anggaran subsidi BBM.

“Jadi kalau harga pertalite tidak otomatis turun saya menduga karena ini produk yang harganya diatur oleh pemerintah dan dengan harga saat ini pemerintah bisa menjaga anggaran subsidi BBM supaya tidak melampaui kuota,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/10).

Ia menambahkan harga pertamax turun agar disparitas harganya dengan pertalite tidak terlalu jauh. Ini dilakukan untuk mendorong konsumen yang awalnya membeli pertamax lalu beralih ke pertalite karena disparitas harga yang terlalu jauh bisa kembali lagi ke pertamax.

Dengan begitu, konsumsi pertalite yang bersubsidi bisa berkurang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *